Selasa, 22 November 2016

Hikmah di Balik Musibah

Hikmah di Balik Musibah

Di hari yang cerah Ahmad seseorang perantauan sedang melamun di depan Masjid Darussalam, Ahmad adalah seorang pemuda dari salah satu desa di Lampung yang mencari peruntungan di Jakarta. Tapi sayangnya 4 tahun yang lalu ketika awal Ahmad datang ke Jakarta dia di rampok ketika turun dari bus yang di naikinya. Sehais  sholat magrib dimasjid Darussalam, Ahmad bertemu dengan seorang laki-laki yang sudah lumayan tua bernama pak Supri.
4 tahun yang lalu.............

“Alhamdulillah akhirnya sudah sampai ,” kata Ahmad sembari keluar dari bus yang ia naiki. Ketika itu Ahmad sedang melamun, dia setengah tidak percaya bahwadia sekarang ada di jakarta.

“Mau kemana mas?” tanya seseorang pemuda tersebut memecah semua lamunan Ahmad.

“Mau ke sini mas,” Ahmad pun menjawab sembari memberikan seorang pemuda tersebut kertas yang ada sebuah alamatnya.

“O...... alamat ini. Saya tau  mas mari ikut saya!” kata pemuda tersebut semabari menarik tangan Ahmad.
Ada perasaan ragu yang muncul di benak Ahmad, tetapi Ahmad pun menganggukan kepalanya seperti terhipnotis.

Dan tiba-tiba Ahmad sudah berada di tempat yang berbeda pada saat Ahmad turun dari bus tadi.

“Mana semua barang-barangku!!” kata Ahmad bingung dan matanya melihat-lihat di sekeliling tempat itu untuk memastikan barangnya yang sudah tidak ada.

Ahmad pun kemudian melamun meratapi nasipnya yang malang di hari pertama di jakarta.

Allahhuakhar allahhuakhbar.......
Kumandang adzan magrib memecah lamunan Ahmad, dan kemudian Ahmad langsung beranjak mencari masjid di sekitar tempat tersebut.
Tidak lama kemudian Ahmad menemukan masjid yang lumayan besar tidak jauh dari tempat dia melamun tadi.
Ahmad kemudian berwudhu dan sholat berjamaah di masjid tersebut.
Setelah selesai sholat magrib Ahmad pun kembali duduk termenung di teras masjid Drussalam.

“Sedang apa nak disini ?” ada seorang laki-laki yang sudah lumayan tua menepuk pundaku.

“Ini pak saya habis terkena musibah, saya di rampok oleh pemuda dan semua barang-barang saya diambil pak, dan sekarang saya tidak tahu harus tinggal dimanadan harus berbuat apa jujur pak saya baru pertama kali ke Jakarta.” Ahmad bericara tiada hentinya.

“Yasudah.... kamu tinggal saya di masjid ini bersama saya, menjadi marbot disini mau kan ? bapak tersebut menawarkan tempat tinggal sekaligus pekerjaan kepada Ahmad, belum sempat Ahmad mejawa bapak itu berbicara lagi, “ Tenang insyallah dib ayar kok nak hahahaha.” Bapak itu seperti peramal saja bahwa sekarang aku sedang membutuhkan uang setidaknya untuk aku pulang ke Lampung.

“ahh bapak bisa saja, saya di berikan tempat tinggal gratis saja sudah alhamdulillah pak, tapi ya kalau di bayar berarti itu rezeki saya pak hehehe,” Ahmad berbicara kepada bapak tersebut seperti sudah kenal lama mungkin karena bapak tersebut mudah akrab dengan seseorang.

“Nama saya Supriyadin panggil saya pak supri, “ bapak tersebut mengenalkan diri sembari menjulurkan tangannya.


“Nama saya Ahmad pak” jawab Ahmad membalas uluran tangan pak Supri.
Kemudian pak Supri pun menunjukan kamar yang akan Ahmad tempati, rupanya tempat tersebut berada di sebelah masjid, dan pak Supri pun menjelaskan apa saja yang akan saya kerjakan selama menjadi marbot masjid Darussalam ini.

Dan ternyata pekerjaan Ahmad tidak hanya sekedar menjadi marbot tetapi Ahmad diberi amanah oleh pak Supri untuk mengajar mengaji di TPA di masjid Darussalam tersebut.
Dan Ahmad pun memetik hikmah di balik semua perjalanan yang di alaminya bahwa semua cobaan yang di beri Allah kepada  hambanya mungkin adalah jalan untuk menuju pintu kesuksesan dan pintu surga-Nya
Dan saat ini Ahmad masih menjadi seorang marbot dan kuliah di salah satu Universitas ternama di Jakarta. 

Itu semua terjadi karena Ahmad tidak pernah putus asa menjalani perjalanan hidupnya yang banyak rintangan.

Ingatan Ahmad pun buyar saat ada seseorang yang memangil nya, dan Ahmad pun segera menuju ke sumber suara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar