Hikmah di Balik Musibah
Di hari yang cerah
Ahmad seseorang perantauan sedang melamun di depan Masjid Darussalam, Ahmad
adalah seorang pemuda dari salah satu desa di Lampung yang mencari peruntungan
di Jakarta. Tapi sayangnya 4 tahun yang lalu ketika awal Ahmad datang ke Jakarta
dia di rampok ketika turun dari bus yang di naikinya. Sehais sholat magrib dimasjid Darussalam, Ahmad
bertemu dengan seorang laki-laki yang sudah lumayan tua bernama pak Supri.
4 tahun yang
lalu.............
“Alhamdulillah akhirnya
sudah sampai ,” kata Ahmad sembari keluar dari bus yang ia naiki. Ketika itu
Ahmad sedang melamun, dia setengah tidak percaya bahwadia sekarang ada di
jakarta.
“Mau kemana mas?” tanya
seseorang pemuda tersebut memecah semua lamunan Ahmad.
“Mau ke sini mas,”
Ahmad pun menjawab sembari memberikan seorang pemuda tersebut kertas yang ada
sebuah alamatnya.
“O...... alamat ini.
Saya tau mas mari ikut saya!” kata
pemuda tersebut semabari menarik tangan Ahmad.
Ada perasaan ragu yang
muncul di benak Ahmad, tetapi Ahmad pun menganggukan kepalanya seperti
terhipnotis.
Dan tiba-tiba Ahmad
sudah berada di tempat yang berbeda pada saat Ahmad turun dari bus tadi.
“Mana semua
barang-barangku!!” kata Ahmad bingung dan matanya melihat-lihat di sekeliling
tempat itu untuk memastikan barangnya yang sudah tidak ada.
Ahmad pun kemudian
melamun meratapi nasipnya yang malang di hari pertama di jakarta.
Allahhuakhar
allahhuakhbar.......
Kumandang adzan magrib
memecah lamunan Ahmad, dan kemudian Ahmad langsung beranjak mencari masjid di
sekitar tempat tersebut.
Tidak lama kemudian
Ahmad menemukan masjid yang lumayan besar tidak jauh dari tempat dia melamun
tadi.
Ahmad kemudian berwudhu
dan sholat berjamaah di masjid tersebut.
Setelah selesai sholat
magrib Ahmad pun kembali duduk termenung di teras masjid Drussalam.
“Sedang apa nak disini
?” ada seorang laki-laki yang sudah lumayan tua menepuk pundaku.
“Ini pak saya habis
terkena musibah, saya di rampok oleh pemuda dan semua barang-barang saya
diambil pak, dan sekarang saya tidak tahu harus tinggal dimanadan harus berbuat
apa jujur pak saya baru pertama kali ke Jakarta.” Ahmad bericara tiada
hentinya.
“Yasudah.... kamu
tinggal saya di masjid ini bersama saya, menjadi marbot disini mau kan ? bapak
tersebut menawarkan tempat tinggal sekaligus pekerjaan kepada Ahmad, belum
sempat Ahmad mejawa bapak itu berbicara lagi, “ Tenang insyallah dib ayar kok
nak hahahaha.” Bapak itu seperti peramal saja bahwa sekarang aku sedang
membutuhkan uang setidaknya untuk aku pulang ke Lampung.
“ahh bapak bisa saja,
saya di berikan tempat tinggal gratis saja sudah alhamdulillah pak, tapi ya
kalau di bayar berarti itu rezeki saya pak hehehe,” Ahmad berbicara kepada
bapak tersebut seperti sudah kenal lama mungkin karena bapak tersebut mudah
akrab dengan seseorang.
“Nama saya Supriyadin
panggil saya pak supri, “ bapak tersebut mengenalkan diri sembari menjulurkan
tangannya.
“Nama saya Ahmad pak”
jawab Ahmad membalas uluran tangan pak Supri.
Kemudian pak Supri pun
menunjukan kamar yang akan Ahmad tempati, rupanya tempat tersebut berada di
sebelah masjid, dan pak Supri pun menjelaskan apa saja yang akan saya kerjakan
selama menjadi marbot masjid Darussalam ini.
Dan ternyata pekerjaan
Ahmad tidak hanya sekedar menjadi marbot tetapi Ahmad diberi amanah oleh pak
Supri untuk mengajar mengaji di TPA di masjid Darussalam tersebut.
Dan Ahmad pun memetik
hikmah di balik semua perjalanan yang di alaminya bahwa semua cobaan yang di
beri Allah kepada hambanya mungkin
adalah jalan untuk menuju pintu kesuksesan dan pintu surga-Nya
Dan saat ini Ahmad masih
menjadi seorang marbot dan kuliah di salah satu Universitas ternama di Jakarta.
Itu semua terjadi karena Ahmad tidak pernah putus asa menjalani perjalanan
hidupnya yang banyak rintangan.
Ingatan Ahmad pun buyar
saat ada seseorang yang memangil nya, dan Ahmad pun segera menuju ke sumber
suara.